Kamis, 01 September 2011

SNI-Beton : Jarak Antar Tulangan

Kadang sewaktu mendesain struktur beton bertulang, kita ingin menggunakan tulangan yang sangat banyak atau justru sangat sedikit. Jika tulangannya banyak, maka jarak antar tulangan menjadi sangat rapat, sebaliknya jika sedikit, maka jaraknya menjadi renggang. SNI-Beton-2002 sebenarnya sudah memberikan batasan jarak atau spasi antar tulangan baik itu untuk balok, kolom, pelat, maupun dinding.
Batasan Spasi Tulangan menurut pasal 7.6 SNI-2847-2002

  1. Jarak bersih antara tulangan sejajar dalam lapis yang sama tidak boleh kurang dari 25 mm.
  2. Jika tulangan terdiri dari lebih dari satu lapis (baris), maka jarak bersih antar baris tulangan adalah 25 mm.
  3. Untuk kolom, boundary element pada dinding geser, atau dinding yang mempunyai confinement (sengkang pengikat), jarak bersih antar tulangan utamanya adalah minimal 1.5d_b  atau 40 mm (mana yang terbesar).
  4. Pada dinding dan pelat lantai, tulangan lentur utama jaraknya harus kurang dari 3x tebal pelat (dinding) atau 500 mm (mana yang terbesar).
spasi-tulangan1
1. Mengenai spasi antar tulangan, kalau bisa saya gambarkan kira-kira pengaturan tulangan yang 6d16 itu seperti gambar di bawah?
spasi_tulangan
Jika memang seperti gambar di atas, bisa diperkirakan sewaktu mengecor, kerikil-kerikil (agregat) tidak bisa lolos untuk mengisi inti balok tersebut. Tetapi kenyataannya balok tersebut jadi juga, jadi pertanyaannya, lewat manakah kerikil-kerikil itu sampai bisa menyusup melewati tulangan yang segitu rapatnya?
Kalau boleh saya menebak, 6d16 tulangan atas itu tentu tidak menerus sepanjang bentang balok? Maksud saya 6d16 tulangan atas hanya diperlukan di daerah seikitar tumpuan (kolom). Kalau di tengan bentang, jumlahnya bisa dikurangi, 4d16 misalnya. Kalau memang begitu kondisinya, berarti beton cair dituang dari tengah balok, kemudian mengalir mengisi ke daerah tumpuan. (?)
Tapi, alasan utama tentu pak Wani (yang menyaksikan proses konstruksi) yang lebih tau. Mungkin waktu mengecor, tulangan atas tersebut digeser dulu sedikit agar ada celah untuk menuang beton. Atau, mungkin besi 6d16 itu dipasang (disusun) menjadi 2 lapis? Atau, hmm.. saya baru dapat kemungkinan lain, beton tersebut mengisi inti balok melalui sisi samping balok yang berbatasan dengan pelat lantai. (wallahu a'lam).
cor balok
Intinya, persyaratan jarak minimum tulangan 25mm adalah agar memudahkan sewaktu pengecoran dan memastikan semua agregat bisa masuk dan mengisi semua ruang yang ada. Beton yang keropos salah satu penyebabnya adalah karena beton tidak dipadatkan dengan baik, atau pemadatannya sudah cukup, tapi karena memang ruang yang tersedia cukup sempit untuk dilewati (diisi) oleh kerikil. Selain itu, jarak antar tulangan yang cukup akan membentuk ikatan yang lebih kuat antara beton dan tulangan, dibandingkan dengan jarak yang sangat rapat.
2. Besi yang nongol keluar itu biasa disebut stek atau kalo istilah belakang mejanya adalah starter bars. Sebenarnya, tujuan stek itu untuk menyambung struktur yang pengecorannya dilakukan belakangan, selama masa konstruksi. Misalnya gini, ada balok 2 bentang menerus, tapi hari ini dicor satu bentang dulu, bentang sisanya dicor minggu depan, so, harus ada stek dari balok pertama. Tapi, kalau "belakangan"nya itu dalam hitungan tahun... kalo bisa dihindari. Tapi secara teknis sebenarnya masih bisa diterima, asalkan memenuhi persyaratan tertentu, misalnya panjang stek yang nongol itu minimal 40 kali diameter tulangan. Lebih panjang lebih baik. Trus, kalau tulangan itu berkarat, sebelum dibangun lagi, kalau karatnya parah (sampai berkerak-kerak), sehingga luas penampangnya menjadi banyak berkurang, sebaiknya tidak perlu dimanfaatkan lagi.
stek
3. Kekeliruan-kekeliruan yang disebut di atas memang tidak akan membuat bangunan akan rubuh, karena banyak faktor lain yang juga berpengaruh. Misalnya mungkin selama masa layan, bangunan ruko tersebut tidak mengalami (menerima) beban yang melebihi beban desain. Mungkin juga ada faktor "feeling" sewaktu mendesain bangunan tersebut, misalnya sewaktu dihitung butuh besi 5d13, ternyata yang dipasang 6d13 dengan alasan biar si perencana bisa tidur dengan tenang. Dan masih banyak faktor lainnya.
4. Yang cukup menyita perhatian saya adalah proses penambahan ruko tersebut sedikit demi sedikit. Ruko adalah gedung yang paling gampang dihitung (karena bentuknya persegi dan tipikal..hehe). Tapi, kalau kasusnya seperti yang bapak ceritakan, ceritanya jadi lain. Untuk beban gravitasi mungkin tidak ada masalah, tapi untuk desain terhadap gempa itu yang perlu diperhatikan. Yaaa.. seharusnya memang tidak sesulit yang dibayangkan, tapi yang ada di benak kami adalah, si perencana ruko tersebut harus memperhitungkan tiap-tiap kondisi (tahap) pengembangan ruko tersebut. Misalnya tahap awal cuma ada 2-3 blok, dan lebar totalnya lebih kecil daripada panjang ruko ke belakang. Tahap akhir, misalnya ada 9-10 ruko, sehingga lebar totalnya menjadi lebih besar daripada panjang ke belakang. Dua kondisi ini perilakunya terhadap gempa menjadi berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar